Media dan publik Argentina memilih tidak membesarkan insiden penalti atau kartu merah kontroversial yang melibatkan Leandro Paredes usai peluit akhir laga final Piala Dunia 2026 pada Minggu lalu. Informasi mengenai hukuman tersebut pun sempat beredar sebelum akhirnya dibantah pada Selasa.
Fokus pada Rasa Bangga Membela Negara
Baca Juga
-
5 Hal tentang Sparta Prague, Calon Lawan OL di Kualifikasi Liga Champions
Olympique Lyonnais bakal berhadapan dengan raksasa Ceko, Sparta Prague, pada babak ketiga...
-
Argentina Gagal Juara Piala Dunia 2026, Lisandro Martinez Tulis Pesan Menohok
Lisandro Martinez memberikan pesan menohok usai Argentina kalah 0-1 dari Spanyol di final Piala...
-
Bos La Liga Javier Tebas Kecam FIFA Soal Wacana Piala Dunia 64 Tim
Presiden La Liga Javier Tebas mengecam keras wacana FIFA yang mempertimbangkan ekspansi Piala...
-
Buntut Kericuhan Final Piala Dunia 2026, FIFA Investigasi Sanksi Timnas Argentina
FIFA menyelidiki aksi kekerasan yang melibatkan pemain dan staf Argentina usai laga final Piala...
Surat kabar lokal di Argentina lebih memilih menyoroti unggahan Paredes di media sosial usai laga. Gelandang yang sudah kembali berlatih bersama Boca Juniors itu mengekspresikan "rasa bangga menjadi bagian dari tim nasional Argentina terbaik dalam sejarah".
Tudingan Standar Ganda dari Eropa
Meski mendapat kritik keras dari Eropa terkait gaya bermain yang dinilai terlalu agresif, publik Argentina merasa menjadi korban standar ganda. Jurnalis koran Tiempo, Alejandro Wall, menilai pelanggaran keras juga dilakukan pemain lawan, seperti aksi Bellingham menampar Valentin Barco yang minim sorotan.
Sikap Sportif Elemen Timnas
Pihak Argentina juga menepis narasi negatif dengan menyoroti sikap sportif dari pelatih dan kapten mereka. Wall menambahkan bahwa sosok Argentina juga tercermin dari aksi Lionel Scaloni yang mencoba menenangkan suasana serta Lionel Messi yang langsung bangkit dari kesedihan untuk memeluk Lamine Yamal.