AS Ungkap Biaya Perang Lawan Iran Tembus Rp 611 Triliun

Menteri Pertahanan Amerika Serikat Pete Hegseth memberikan keterangan terkait anggaran militer dan biaya konflik di Timur Tengah.
Menteri Pertahanan Amerika Serikat Pete Hegseth memberikan keterangan terkait anggaran militer dan biaya konflik di Timur Tengah.
Ringkasan: Pemerintah AS memperkirakan biaya perang melawan Iran telah mencapai USD 37,5 miliar, naik tajam dari perkiraan sebelumnya.

Menteri Pertahanan Amerika Serikat Pete Hegseth menyampaikan bahwa total biaya resmi perang AS-Israel melawan Iran kini telah menyentuh angka USD 37,5 miliar atau sekitar Rp 611 triliun. Jumlah tersebut melonjak tajam dibanding laporan sebelumnya yang dirilis pada Mei lalu sebesar USD 29 miliar.

Pengeluaran Membengkak dan Anggaran Menipis

Baca Juga

Pernyataan tersebut disampaikan Hegseth saat menjawab pertanyaan Senator Partai Demokrat Dick Durbin. Ia menjelaskan bahwa estimasi angka terbaru ini mencakup sejumlah biaya operasional dan pemeliharaan militer hingga akhir September mendatang.

Meski demikian, nilai tersebut masih jauh lebih rendah dibanding estimasi lembaga independen. Moody's Analytics memproyeksikan biaya domestik perang bagi AS dapat mencapai USD 150 miliar akibat dampak lanjutan seperti kenaikan harga energi.

Stok Senjata AS Mulai Terkuras

Hegseth mengeluhkan tekanan berat pada stok persenjataan AS sejak agresi militer dimulai pada 28 Februari lalu. Pihaknya membutuhkan tambahan dana mendesak untuk mempercepat produksi amunisi vital seperti amunisi hipersonik, roket, hingga sistem anti-drone.

Menurutnya, kurangnya pasokan anggaran dapat mengganggu aktivitas pelatihan militer di masa depan. "Pelatihan di masa depan harus dikurangi jika kebutuhan anggaran kami tidak dipenuhi dengan cepat," ujar Hegseth.

Eskalasi Konflik Semakin Panas

Konflik di kawasan Timur Tengah kian memanas setelah Presiden Donald Trump menegaskan Iran bakal "menerima pembalasan" usai dua prajurit AS tewas. Trump bahkan mengancam akan menggempur kilang energi hingga fasilitas nuklir bawah tanah Iran.

Di sisi lain, Iran terus membalas dengan menyerang instalasi vital dan aset AS di kawasan, termasuk fasilitas listrik di Kuwait, Bahrain, dan Yordania. Kelompok Houthi di Yaman yang bersekutu dengan Iran juga memperketat blokade maritim terhadap Arab Saudi.