Menteri Pertahanan Amerika Serikat Pete Hegseth menyampaikan bahwa total biaya resmi perang AS-Israel melawan Iran kini telah menyentuh angka USD 37,5 miliar atau sekitar Rp 611 triliun. Jumlah tersebut melonjak tajam dibanding laporan sebelumnya yang dirilis pada Mei lalu sebesar USD 29 miliar.
Pengeluaran Membengkak dan Anggaran Menipis
Baca Juga
-
Jelang Pemilu, Serangan Israel ke Gaza dan Tepi Barat Kian Merajalela
Serangan militer dan pemukim Israel di Gaza serta Tepi Barat semakin brutal jelang pemilu...
-
Kelompok Bersenjata di Mali Bersatu, Puluhan Prajurit dan Pasukan Rusia Tewas
Aliansi kelompok bersenjata di Mali melancarkan penyergapan yang menewaskan sedikitnya 50...
-
Laporan PBB, Angka Kelaparan Global Turun Tapi Masih di Atas Pra-Pandemi
PBB melaporkan jumlah warga kelaparan di dunia turun menjadi 645 juta pada 2025, namun angkanya...
-
MSF Desak Israel Segera Bebaskan Petugas Medis Palestina yang Ditahan
MSF mengecam keras penahanan puluhan tenaga medis Palestina oleh Israel. Banyak dokter...
Pernyataan tersebut disampaikan Hegseth saat menjawab pertanyaan Senator Partai Demokrat Dick Durbin. Ia menjelaskan bahwa estimasi angka terbaru ini mencakup sejumlah biaya operasional dan pemeliharaan militer hingga akhir September mendatang.
Meski demikian, nilai tersebut masih jauh lebih rendah dibanding estimasi lembaga independen. Moody's Analytics memproyeksikan biaya domestik perang bagi AS dapat mencapai USD 150 miliar akibat dampak lanjutan seperti kenaikan harga energi.
Stok Senjata AS Mulai Terkuras
Hegseth mengeluhkan tekanan berat pada stok persenjataan AS sejak agresi militer dimulai pada 28 Februari lalu. Pihaknya membutuhkan tambahan dana mendesak untuk mempercepat produksi amunisi vital seperti amunisi hipersonik, roket, hingga sistem anti-drone.
Menurutnya, kurangnya pasokan anggaran dapat mengganggu aktivitas pelatihan militer di masa depan. "Pelatihan di masa depan harus dikurangi jika kebutuhan anggaran kami tidak dipenuhi dengan cepat," ujar Hegseth.
Eskalasi Konflik Semakin Panas
Konflik di kawasan Timur Tengah kian memanas setelah Presiden Donald Trump menegaskan Iran bakal "menerima pembalasan" usai dua prajurit AS tewas. Trump bahkan mengancam akan menggempur kilang energi hingga fasilitas nuklir bawah tanah Iran.
Di sisi lain, Iran terus membalas dengan menyerang instalasi vital dan aset AS di kawasan, termasuk fasilitas listrik di Kuwait, Bahrain, dan Yordania. Kelompok Houthi di Yaman yang bersekutu dengan Iran juga memperketat blokade maritim terhadap Arab Saudi.