Jelang Pemilu, Serangan Israel ke Gaza dan Tepi Barat Kian Merajalela

Kondisi kehancuran di Gaza akibat rentetan serangan udara dan bombardir tentara Israel.
Kondisi kehancuran di Gaza akibat rentetan serangan udara dan bombardir tentara Israel.
Ringkasan: Serangan militer dan pemukim Israel di Gaza serta Tepi Barat semakin brutal jelang pemilu Oktober 2026, menewaskan puluhan warga sipil.

Eskalasi kekerasan militer dan pemukim Israel di Gaza serta Tepi Barat makin merajalela usai parlemen Israel resmi dibubarkan untuk pemilu 27 Oktober 2026 mendatang. Dalam kurun 13 hingga 20 Juli, Kantor Hak Asasi Manusia PBB mencatat sedikitnya 57 warga Palestina tewas akibat gempuran tanpa henti.

Iring-iringan Jenazah Turut Dihantam Drone

Baca Juga

Serangan mematikan terjadi pada 17 Juli lalu ketika drone Israel menghantam iring-iringan pemakaman di luar Masjid Ahmad Yassin, Kamp Pengungsi Nuseirat. Insiden brutal ini menewaskan sedikitnya delapan pelayat yang tengah menguburkan korban tewas serangan sebelumnya.

Rentetan serangan udara juga menghancurkan pemukiman sipil di Gaza. Pada 15 Juli, helikopter Israel membantai satu keluarga di Deir el-Balah dan hanya menyisakan seorang balita selamat. Serangan udara pada 21 Juli di Gaza Kota juga menewaskan Firas al-Masri beserta istri dan empat anaknya yang sedang tertidur.

Rencana Pembangunan Pemukiman Ilegal di Gaza

Di tengah jatuhnya korban jiwa, Menteri Pertahanan Israel Israel Katz terang-terangan mengaku puas atas kehancuran di Gaza utara. Ia bahkan mengungkapkan rencana pendirian tiga pos pemukiman militer baru di wilayah tersebut.

Pernyataan Katz bertepatan dengan aksi jalan kaki kelompok pemukim sayap kanan Nachala ke perbatasan Gaza. Aksi yang didukung puluhan menteri dan anggota parlemen ini menuntut pendudukan kembali serta pembangunan pemukiman di dalam Gaza.

Teror Pemukim dan Pembongkaran di Tepi Barat

Kekerasan serupa meluas ke Tepi Barat yang diduduki. Pesepak bola muda Fadi al-Naasan (17) meninggal dunia pada 18 Juli akibat luka tembak dalam penyerangan gabungan tentara dan pemukim Israel di al-Mughayyir.

Pasukan Israel juga menutup akses antar kota dengan gerbang besi dan gundukan tanah, merusak infrastruktur air, serta menyita lahan pertanian warga. Pemukim ekstremis dilaporkan membakar tanaman, mencuri ratusan ekor ternak, hingga membakar masjid desa di at-Tawani.

Krisis Kemanusiaan Semakin Memprihatinkan

Laporan OCHA PBB mencatat 63 persen rumah tangga di Gaza kini berjuang dengan pasokan air bersih kurang dari enam liter per hari. Blokade pakan ternak selama lebih dari sebulan juga mengancam ketahanan pangan warga.

PBB memperingatkan bahwa pola serangan sistematis dan perampasan lahan ini mengarah pada pelanggaran berat hukum humaniter internasional serta berpotensi menjadi kejahatan perang.