Kelompok milisi bersenjata melancarkan penyergapan mematikan terhadap konvoi gabungan Angkatan Bersenjata Mali (FAMa) dan unit Africa Corps asal Rusia di dekat kota Anefis pada 18 Juli 2026. Serangan mendadak ini menewaskan sedikitnya 50 prajurit Mali serta memukul mundur pasukan pemerintah.
Aliansi Tak Terduga Dua Kelompok Bersenjata
Baca Juga
-
Anak Imigran Korban Penembakan ICE di Texas Tuntut Penyelidikan Transparan
Anak-anak imigran asal Meksiko yang tewas ditembak ICE di Texas menuntut pertanggungjawaban...
-
AS Catat 2.318 Kasus Campak di 2026, Melampaui Total Kasus Tahun Lalu
Amerika Serikat mengonfirmasi 2.318 kasus campak sepanjang 2026, melampaui rekor tahun 2025...
-
AS Ungkap Biaya Perang Lawan Iran Tembus Rp 611 Triliun
Pemerintah AS memperkirakan biaya perang melawan Iran telah mencapai USD 37,5 miliar, naik tajam...
-
Jelang Pemilu, Serangan Israel ke Gaza dan Tepi Barat Kian Merajalela
Serangan militer dan pemukim Israel di Gaza serta Tepi Barat semakin brutal jelang pemilu...
Serangan mematikan tersebut diklaim bersama oleh Front Pembebasan Azawad (FLA) dan Jama'at Nusrat al-Islam wal-Muslimin (JNIM). Kerja sama antara kelompok separatis Tuareg dan afiliasi al-Qaeda ini mengejutkan banyak pihak karena keduanya memiliki agenda politik yang sangat berbeda.
Batas Kemampuan Dukungan Militer Rusia
Analis Afrika Barat ACLED, Héni Nsaibia, menilai aliansi ini terbentuk atas dasar musuh bersama. Meski militer Rusia pimpinan Kremlin telah memperkuat pertahanan dan menyuplai drone tempur, serangan koordinasi ini membuktikan bahwa strategi keamanan pemerintah militer Bamako belum mampu mengamankan wilayah terpencil Sahel.
Ancaman Stabilitas Wilayah Sahel
Eskalasi konflik di Mali utara ini menebar ancaman nyata bagi stabilitas kawasan Sahel secara keseluruhan. Keputusan Mali keluar dari Blok ECOWAS makin mempersempit peluang koordinasi regional untuk meredam pergerakan kelompok bersenjata yang kian padu.