Keluarga dan tim hukum pemimpin oposisi Tunisia, Rached Ghannouchi, tidak dapat menemui atau menghubungi politisi berusia 85 tahun tersebut selama 11 hari. Ghannouchi dilarikan ke rumah sakit setelah pingsan akibat gelombang panas ekstrem di dalam penjara.
Akses Kunjungan Ditolak Otoritas
Baca Juga
-
Anak Imigran Korban Penembakan ICE di Texas Tuntut Penyelidikan Transparan
Anak-anak imigran asal Meksiko yang tewas ditembak ICE di Texas menuntut pertanggungjawaban...
-
AS Catat 2.318 Kasus Campak di 2026, Melampaui Total Kasus Tahun Lalu
Amerika Serikat mengonfirmasi 2.318 kasus campak sepanjang 2026, melampaui rekor tahun 2025...
-
AS Ungkap Biaya Perang Lawan Iran Tembus Rp 611 Triliun
Pemerintah AS memperkirakan biaya perang melawan Iran telah mencapai USD 37,5 miliar, naik tajam...
-
Jelang Pemilu, Serangan Israel ke Gaza dan Tepi Barat Kian Merajalela
Serangan militer dan pemukim Israel di Gaza serta Tepi Barat semakin brutal jelang pemilu...
Putra Ghannouchi, Moadh Ghannouchi, menyatakan bahwa kunjungan terakhir pengacara dilakukan beberapa hari sebelum ayahnya kehilangan kesadaran pada 17 Juli 2026. Permohonan untuk mengunjungi sang ayah di rumah sakit, termasuk yang diajukan kepada jaksa penuntut umum, telah ditolak mentah-mentah oleh otoritas berwenang.
Kondisi Kesehatan Menurun Akibat Penjara Tanpa Pendingin Udara
Ghannouchi yang memiliki riwayat hipertensi dan gangguan pernapasan ditempatkan di sel penjara tanpa pendingin udara di tengah gelombang panas ekstrem. Suhu di dalam Penjara Mornaguia dilaporkan mencapai 52 derajat Celsius sebelum ia jatuh pingsan dan dilarikan ke fasilitas medis.
Tuntutan Transparansi dari Koalisi Oposisi
Tim pembela Ghannouchi bersama koalisi oposisi Front Keselamatan Nasional mendesak pemerintah Tunisia untuk segera merilis informasi resmi terkait kondisi kesehatan klien mereka. Hingga kini, pihak keluarga dan Partai Ennahda mengaku masih kesulitan mengetahui rumah sakit tempat Ghannouchi dirawat serta kepastian kondisinya.