Pemangkasan dana bantuan luar negeri oleh pemerintah Amerika Serikat di bawah kepemimpinan Presiden Donald Trump berdampak buruk bagi penanganan HIV secara global. Kebijakan ini memaksa ribuan klinik kesehatan di puluhan negara menghentikan operasionalnya pada Selasa (21/7/2026).
Dampak Fatal Pada Layanan Kesehatan dan Tenaga Kerja
Baca Juga
-
AS Ungkap Biaya Perang Lawan Iran Tembus Rp 611 Triliun
Pemerintah AS memperkirakan biaya perang melawan Iran telah mencapai USD 37,5 miliar, naik tajam...
-
Jelang Pemilu, Serangan Israel ke Gaza dan Tepi Barat Kian Merajalela
Serangan militer dan pemukim Israel di Gaza serta Tepi Barat semakin brutal jelang pemilu...
-
Kelompok Bersenjata di Mali Bersatu, Puluhan Prajurit dan Pasukan Rusia Tewas
Aliansi kelompok bersenjata di Mali melancarkan penyergapan yang menewaskan sedikitnya 50...
-
Laporan PBB, Angka Kelaparan Global Turun Tapi Masih di Atas Pra-Pandemi
PBB melaporkan jumlah warga kelaparan di dunia turun menjadi 645 juta pada 2025, namun angkanya...
Berdasarkan laporan organisasi amal amfAR yang mensurvei 166 lembaga di 46 negara, pemotongan anggaran pada program PEPFAR (President's Emergency Plan for AIDS Relief) memicu dampak sistematis. Lebih dari 1.700 klinik terpaksa tutup dan sedikitnya 16.000 tenaga medis kehilangan pekerjaan akibat penundaan serta pembatalan dana.
Peneliti amfAR, Elise Lankiewicz, menegaskan bahwa gangguan terjadi secara meluas di seluruh lini program. Sekitar tiga perempat organisasi yang disurvei bahkan telah menghentikan layanan bagi kelompok berisiko tinggi, serta menyebabkan akses pengobatan anak-anak merosot hingga 14 persen pada tahun 2025.
Bantahan Deplu AS dan Peringatan PBB
Departemen Luar Negeri AS membantah temuan tersebut dan mengklaim bahwa program PEPFAR justru semakin kuat dengan arah strategis yang lebih jelas. Namun, Badan PBB untuk HIV/AIDS (UNAIDS) memperingatkan ancaman besar jika pemotongan dana ini bersifat permanen.
UNAIDS memproyeksikan bakal ada tambahan 6,6 juta infeksi baru HIV dan 4,2 juta kematian akibat AIDS hingga tahun 2029 mendatang. Selain AS, beberapa negara donor seperti Prancis, Jerman, dan Inggris juga turut memangkas bantuan kemanusiaan luar negeri mereka.
Desakan Kemandirian Kesehatan di Afrika
Krisis anggaran ini menjadi pukulan telak bagi kawasan Afrika yang menanggung beban kasus HIV tertinggi di dunia. Direktur Eksekutif UNAIDS, Winnie Byanyima, menyerukan agar negara-negara Afrika segera melakukan adaptasi sistem kesehatan secara mandiri.
"Ada kebutuhan bagi Afrika untuk dengan cepat mengadaptasi sistem kerjanya demi menjaga keselamatan masyarakat dan menuju kedaulatan kesehatan," tegas Byanyima saat menghadiri KTT kesehatan Uni Afrika di Accra.