Pemangkasan Dana AS Hantam Penanganan HIV Global, Ribuan Klinik Tutup

Ilustrasi penanganan medis untuk pasien HIV/AIDS di tengah krisis pemotongan anggaran bantuan kesehatan global.
Ilustrasi penanganan medis untuk pasien HIV/AIDS di tengah krisis pemotongan anggaran bantuan kesehatan global.
Ringkasan: Pemotongan anggaran PEPFAR oleh AS menyebabkan pembatalan layanan pencegahan HIV, penutupan 1.700 klinik, dan pemutusan hubungan kerja 16.000 tenaga medis.

Pemangkasan dana bantuan luar negeri oleh pemerintah Amerika Serikat di bawah kepemimpinan Presiden Donald Trump berdampak buruk bagi penanganan HIV secara global. Kebijakan ini memaksa ribuan klinik kesehatan di puluhan negara menghentikan operasionalnya pada Selasa (21/7/2026).

Dampak Fatal Pada Layanan Kesehatan dan Tenaga Kerja

Baca Juga

Berdasarkan laporan organisasi amal amfAR yang mensurvei 166 lembaga di 46 negara, pemotongan anggaran pada program PEPFAR (President's Emergency Plan for AIDS Relief) memicu dampak sistematis. Lebih dari 1.700 klinik terpaksa tutup dan sedikitnya 16.000 tenaga medis kehilangan pekerjaan akibat penundaan serta pembatalan dana.

Peneliti amfAR, Elise Lankiewicz, menegaskan bahwa gangguan terjadi secara meluas di seluruh lini program. Sekitar tiga perempat organisasi yang disurvei bahkan telah menghentikan layanan bagi kelompok berisiko tinggi, serta menyebabkan akses pengobatan anak-anak merosot hingga 14 persen pada tahun 2025.

Bantahan Deplu AS dan Peringatan PBB

Departemen Luar Negeri AS membantah temuan tersebut dan mengklaim bahwa program PEPFAR justru semakin kuat dengan arah strategis yang lebih jelas. Namun, Badan PBB untuk HIV/AIDS (UNAIDS) memperingatkan ancaman besar jika pemotongan dana ini bersifat permanen.

UNAIDS memproyeksikan bakal ada tambahan 6,6 juta infeksi baru HIV dan 4,2 juta kematian akibat AIDS hingga tahun 2029 mendatang. Selain AS, beberapa negara donor seperti Prancis, Jerman, dan Inggris juga turut memangkas bantuan kemanusiaan luar negeri mereka.

Desakan Kemandirian Kesehatan di Afrika

Krisis anggaran ini menjadi pukulan telak bagi kawasan Afrika yang menanggung beban kasus HIV tertinggi di dunia. Direktur Eksekutif UNAIDS, Winnie Byanyima, menyerukan agar negara-negara Afrika segera melakukan adaptasi sistem kesehatan secara mandiri.

"Ada kebutuhan bagi Afrika untuk dengan cepat mengadaptasi sistem kerjanya demi menjaga keselamatan masyarakat dan menuju kedaulatan kesehatan," tegas Byanyima saat menghadiri KTT kesehatan Uni Afrika di Accra.