Pemerintah Israel menyetujui pengerahan pasukan internasional terbatas yang melibatkan 200 personel dari negara seperti Maroko dan Uganda ke wilayah Rafah selatan, menurut laporan media Israel pada Minggu (26/7). Meskipun disambut oleh pejabat internasional, para analis menilai langkah tersebut sebagai manuver diplomatik yang bermaksud meredam tekanan politik Amerika Serikat.
Dinilai sebagai Manuver Jelang Kunjungan ke Washington
Baca Juga
-
Anak Imigran Korban Penembakan ICE di Texas Tuntut Penyelidikan Transparan
Anak-anak imigran asal Meksiko yang tewas ditembak ICE di Texas menuntut pertanggungjawaban...
-
AS Catat 2.318 Kasus Campak di 2026, Melampaui Total Kasus Tahun Lalu
Amerika Serikat mengonfirmasi 2.318 kasus campak sepanjang 2026, melampaui rekor tahun 2025...
-
AS Ungkap Biaya Perang Lawan Iran Tembus Rp 611 Triliun
Pemerintah AS memperkirakan biaya perang melawan Iran telah mencapai USD 37,5 miliar, naik tajam...
-
Jelang Pemilu, Serangan Israel ke Gaza dan Tepi Barat Kian Merajalela
Serangan militer dan pemukim Israel di Gaza serta Tepi Barat semakin brutal jelang pemilu...
Keputusan kabinet keamanan Israel diambil di tengah macetnya proses perdamaian yang didukung Amerika Serikat. Pakar urusan Israel, Mamoun Abu Amer, menyatakan bahwa pemungutan suara kilat tersebut dirancang untuk meredam tekanan dari Washington menjelang kunjungan Perdana Menteri Benjamin Netanyahu.
Abu Amer menyebutkan bahwa Israel mengubah ketentuan awal resolusi Dewan Keamanan PBB untuk mengamankan kepentingan strategisnya. "Ini adalah proses yang terbalik," ujarnya mengenai implementasi perjanjian yang sangat bersyarat tersebut.
Kritik Terhadap Pembatasan Pasukan dan Otoritas Lokal
Rencana pengerahan ini juga dikritik karena membatasi wewenang pihak lokal, di mana polisi Palestina yang mendampingi hanya diizinkan membawa tongkat karet dan alat kejut listrik. Pembatasan ketat ini dinilai bertujuan untuk melucuti kemampuan penegakan hukum yang sesungguhnya.
Para ahli memperingatkan bahwa mengubah wilayah kecil di Rafah menjadi zona uji coba mengancam keutuhan teritorial Gaza. Kebijakan ini dinilai berisiko membiarkan jutaan warga terjebak dalam krisis kemanusiaan di bawah kendali militer yang ketat.